Minggu, 25 November 2012

PEMASARAN BARANG KONSUMSI DAN BARANG INDUSTRI (PASAR BISNIS)



1.    Barang Konsumsi
Barang konsumsi ialah yaitu barang yang dipakai secara langsung atau tidak langsung oleh konsumen untuk keperluan pribadi atau rumah tangga yang bersifat sekali habis atau barang yang dibeli untuk konsumsi akhir.
Penggolongan barang konsumsi 0leh Hector Lazo, MBA, Ph.D., dalam bukunya Marketing yaitu:
·         Barang tahan lama (Durable goods). Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya dapat bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah 1 tahun atau lebih). Contohnya antara lain adalah televisi, lemari es, mobil, komputer, dan lain-lain. Umumnya jenis barang ini membutuhkan personal selling dan pelayanan yang lebih banyak daripada barang tidak tahan lama, memberikan keuntungan yang lebih besar, dan membutuhkan jaminan atau garansi tertentu dari penjualnya.

·         Barang tidak tahan lama (Non-Durable goods). Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari 1 tahun. Contohnya adalah sabun, minuman dan makanan ringan, kapur tulis, gula, dan garam. Oleh karena barang ini dikonsumsi dengan cepat (dalam waktu singkat) dan frekuensi pembeliannya sering terjadi, maka strategi yang paling tepat adalah menyediakannya di banyak lokasi, menerapkan mark-up yang kecil, dan mengiklankannya secara gencar untuk merangsang orang agar mencobanya dan sekaligus untuk membentuk preferensi.

·         Barang jasa (service goods). Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual. Contohnya bengkel reparasi, salon kecantikan, kursus, hotel, lembaga pendidikan dan lain-lain (Kotler, 1997 : 54 ).
Selain itu, produk umumnya juga diklasifikasikan berdasarkan siapa pelanggannya dan untuk apa produk tersebut dikonsumsi. Berdasarkan kriteria ini, produk dapat dibedakan menjadi barang konsumen (consumer’s goods) dan barang industri (industrial’s goods).
Hector Lazo membagi lagi barang-barang tersebut di atas menjadi:
·         Convenience goods
·         Shopping goods
·         Specialty goods
Kotler (2000:397), membedakan klasifikasi barang konsumsi sebagai berikut:
·         Convenience goods
·         Shopping goods
·         Specialty goods
·         Barang yang tidak dicari (Unsought goods).
Barang konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan pelanggan akhir sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan bisnis. Umumnya barang pelanggan dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu:
1.1  Convenience goods
Convinience goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian yang tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera, dan hanya memerlukan usaha yang minimum (sangat kecil) dalam pembandingan dan pembeliannya. Contohnya antara lain rokok, sabun, pasta gigi, baterai, permen, dan surat kabar. Convinience goods sendiri masih dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu :
1.    Staples adalah  barang  yang  dibeli  konsumen  secara  reguler  atau rutin, misalnya sabun mandi dan pasta gigi.
2.    Impulse goods merupakan barang yang dibeli tanpa perencanaan terlebih dahulu ataupun usaha-usaha mencarinya. Biasanya Impulse goods tersedia dan dipajang di banyak tempat yang tersebar, sehingga konsumen tidak perlu repot-repot mencarinya. Contohnya permen, coklat, majalah.
3.    Emergency goods adalah barang yang dibeli bila suatu kebutuhan dirasa sangat mendesak, misalnya payung dan jas hujan di musim hujan.
1.2  Shopping goods
Shopping goods adalah barang-barang yang dalam proses pemilihan dan pembeliannya konsumen bersedia membuang waktunya untuk memilih-milih. Untuk membeli barang ini biasanya telah direcnsakan lebih dulu. Kriteria perbandingan tersebut meliputi harga, kualitas, dan model masing-masing barang. Contohnya alat-alat rumah tangga, pakaian, dan furnitureShopping goods terdiri atas dua jenis, yaitu :
1.    Homogeneous shopping goods merupakan barang-barang yang oleh konsumen dianggap serupa dalam hal kualitas tetapi cukup berbeda dalam harga. Dengan demikian konsumen berusaha mencari harga yang termurah dengan cara membandingkan harga di satu toko dengan toko lainnya. Contohnya adalah tape recorder, TV, dan mesin cuci.
2.    Heterogeneous shopping goods adalah barang-barang yang aspek karakteristik atau ciri-cirinya (features) dianggap lebih penting oleh konsumen daripada aspek harganya. Dengan kata lain, konsumen mempersepsikannya berbeda dalam hal kualitas dan atribut. Contohnya perlengkapan rumah tangga, mebel, dan pakaian.
1.3  Specialty goods
Specialty goods adalah barang-barang yang memiliki karakteristik dan / atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Umumnya specialty goods terdiri atas barang-barang mewah dengan merek dan model spesifik, seperti mobil Lamborghini, kamera Nikon, dan lain-lain.
1.4  Unsought goods
Unsought goods merupakan barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau kalaupun sudah diketahui, tetapi pada umumnya belum terpikirkan untuk membelinya. Ada dua jenis unsought goods, yaitu :
1.    Regularly unsought goods adalah barang-barang yang sebetulnya sudah ada dan diketahui konsumen, tetapi tidak terpikirkan untuk membelinya. Contohnya ensiklopedia, asuransi jiwa, batu nisan, tanah kuburan.
2.    New unsought goods adalah barang yang benar-benar baru dan sama sekali belum diketahui konsumen. Jenis barang ini merupakan hasil inovasi dan pengembangan produk baru, sehingga belum banyak konsumen yang mengetahuinya.
Sedangkan yang termasuk dalam klasifikasi barang industri adalah barang-barang yang dikonsumsi oleh industriawan (pelanggan antara / pelanggan bisnis) untuk diubah, diproduksi menjadi barang lain kemudian dijual kembali (oleh produsen) ataupun untuk dijual kembali (oleh pedagang) tanpa dilakukan transformasi fisik (proses produksi).
Barang industri dapat diklasifikasikan berdasarkan peranannya dalam proses produksi dan biaya relatif. Ada tiga kelompok barang industri yang dapat dibedakan (Kotler, 2000 : 397), yaitu Materials and partscapital items, dan supplies and services.
2.    Barang Produksi
Kita harus membedakan barang konsumsi dengan barang industri. Barang konsumsi ialah barang yang digunakan konsumen dan rumah tangga individual untuk konsumsi akhir. Sedangkan barang-barang industri adalah barang yang dipergunakan untuk memproduksi atau dalam hal menjalankan perusahaan atau lembaga pemerintah atau lembaga swasta.
Seperti dikatakan Rayburn D. Tourley sebagai berikut  yang artinya: barang konsumen ialah barang yang digunakan untuk konsumsi ialah barang yang digunakan untuk konsumsi akhir oleh individu atau rumah tangga, sedangkan barang industri ialah barang yang digunakan untuk memproduksi atau digunakan untuk keperluan kegiatan perusahaan dan kantor pemerintah atau swasta.
Seperti dikatakan William J. Stanton dalam Fundamental of Marketing menyatakan bahwa barang industri jelas berbeda dengan barang konsumsi didasarkan atas tujuan penggunaanya. Barang industri ialah barang yang digunakan untuk membuat barang baru, atau digunakan untuk menjalankan atau untuk keperluan kantor atau lembaga.
            Klasifikasi barang-barang industri.
Barang industri ini dapat diklasifikasikan atas 5 kelompok:
1.    Bahan baku (raw material), bahan ini akan diproses dan digabung dengan barang-barang lain. Contohnya, hasil hutan, bahan tambang, tembakau, buah-buahan, dan sebagainya
2.    Material dan onderdil (fabricating material and parts). Contohnya plat-plat belanja, benang, tepung yang akan digunakan untuk membuat produksi baru.
3.    Installations, yaitu hasil dari pabrik lain, yang akan digunakan untuk produksi selanjutnya. Misalnya generator pembangkit listrik, mesin diesel, bangunan pabrik, dan sebagainya.
4.    Perlengkapan (accessory equipment), ini digunakan dalam operasi perusahaan, dan tidak ada hubungan langsung dengan hasil produksi misalnya chas register untuk toko, alat-alat transpor mengangkat barang dalam gudang.
5.    Barang –barang yang digunakan untuk operasi perusahaan (operating supplies) seperti minyak pelumas, pensil dan alat tulis buat kantor, sabun dan alat pembersih buat pabrik, dan sebagainya.

3.    Konsumen Barang Industri
Pembeli barang industri dimotivasi oleh berbagai unsur, seperti pertimbangan keuangan yang tersedia, tujuan memeperoleh keuntungan jumlah yang dibutuhkan dan perhitungan harga pokok barang. Semua ini dilakukan penuh perhitungan. Pertimbangan lain yang mempengaruhi konsumen ialah masalah kualitas, pelayanan dan harga.
Ada kalanya pembeli mau membayar tambahan  ekstra untuk memperoleh kualitas tertentu, agar tujuan produksinya tercapai seperti yang direncanakan dan tidak mau membeli bahan lain yang mutunya lebih rendah bahan kualitas tinggi tersebut mereka perlukan kadang-kadang untuk meningkatkan daya pakai barang atau meninggukan mutu barang yang merupakan ciri khas produknya.
Pertimbangan untuk memilih calon penjual dari mana barang akan dibeli oleh konsumen ialah, kemampuan penjual untuk menyediakan barang secara kontinue dalam bentuk onderdil, bahan dan mutu yang sama
·         Pelayanan
Perusahaan, pemerintah dan lembaga lainnya memerlukan berbagai pelayan dalam membeli barang. Pelayanan yang mereka perlukan ialah yang menyangkkut masalah teknik, kemudahan mengganti onderdil yang rusak, pengiriman, berbagai macam informasi, dan sebagainya.
·         Harga
Para pembeli barang industri sering kali mempertimbangkan masalah harga, karena dalam pemakaian barang itu banyak terjadi bahan terbuang, biaya memproses, biaya kerusakkan, dan sebagainya.
·         Penghematan
Konsumen kadang-kadang mencari penghematan dari bahan yang dipakai. Seperti pengganti bahan yang biasa ia pakai dengan bahan lainnya, bila bahan tersebut, mudah proses pengerjakkannya, tidak membahayakan, mudah diangkut akan mendatangkan penghematan.
·         Karakteristik Konsumen
Karakteristik konsumen barang industri dibedakan atas berbagai tipe organisasi pembeli, besar distribusinya, lokasi geografisnya.
·         Populasi Pembeli
Jumlah pembeli barang industri sangat terbatas, dibandingkan dengan barang konsumsi. Akan tetapi kualitas yang mereka beli sangat banyak.

4.    Pasar barang industri atau Pasar Bisnis
Ada dua pasar barang industri yaitu:
1.    Original market, yaitu pasar yang sebenarnya, diarahkan ke pemakai-pemakai industri untuk dipakai membuat barang baru atau membantu dalam proses pekarjaan, misalnya pabrik mobil membeli ban dari pabrik ban mobil.
2.    Replacement Market, yaitu diarahkan kepada para konsumen, yang ingin mengganti barang yang sudah tua, seperti membeli aki mobil untuk mengganti aki yang sudah habis, demikian pula hanyalah dengan membeli ban, onderdil, dan sebagainya.
Ada perbedaan lain antara barang industri dan barang konsumen.
            Barang industri mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.    Pasar barang industri ini secara geografis dikonsentrir dalam beberapa daerah yang terbatas. Pembeli dari barang-barang industri-industri yang letaknya sudah dipusatkan pada suatu tempat.
2.    Pembeli-pembeli prespektif sangat terbatas jumlahnya. Suatu kenyataan bahwa pembeli barang-barang industri hanya beberapa saja jumlahnya bila dibandingkan dengan pembeli barang-barang konsumsi. Contohnya perusahaan mobil membeli onderdil-onderdil mobil sebagai assembling hanya beberapa perusahaan saja tetapi yang membeli barang atau mobil sebagai barang konsumen bukan main banyaknya.
3.    Pembeli secara induvidual besar jumlahnya. Order yang dilakukan oleh industri-industri biasanya dalam jumlah yang besar. Pembelian yang paling kecilpun dari barang industri ini tetap akan jauh lebih besar dari pada pembelian yang dilakukan terhadap barang konsumsi.
4.    Pertimbangan-pertimbangan teknis sangat menentukan. Ini sangat penting sebab barang-barang industri dibeli untuk diolah lebih lanjut. Barang yang dibeli itu harus cocok untuk tujuan penggunaannya.
5.    Permintaanya di pengaruhi oleh permintaan barang-barang konsumsi, karena barang-barang industri ini digunakan untuk membuat barang-barang konsumsi, maka berubahnya permintaan terhadap barang konsumsi akan mempengaruhi pula permintaan terhadap barang-barang industri.
Pasar barang industri ini oleh Philip Kotler disebutnya pasar bisnis sebagai lawan dari pasar konsumen (akhir). Pasar bisnis adalah semua organisasi atau industri yang mendapat barang dan jasa yang digunakan untuk memproduksi barang lain.
Ciri-ciri pasar bisnis yaitu :
1.    Pembeli tidak banyak, hanya beberapa pabrikkan saja yang membeli.
2.    Volume pembelanjaan banyak, sesuai dengan kapasitas produk yang akan dibuat, dan juga untuk persediaan.
3.    Hubungan pemasok dan pelanggan sangat erat, mereka sudah saling mengenal secara baik dan komunikasi lancar.
4.    Membeli terkonsentrasi secara geografis, ada lokasi tertentu untuk industri, seperti dikawasan imdustri (real estate).
5.    Permintaan turunan (derived demand), permintaan akan bahan baku bertambah apabila ada tambahan permintaan pada barang-barang jadi.
6.    Permintaan tidak elastis. Sebab harga tidak banyak pengaruhnya, tetapi sangat berpengaruh terhadap permintaan ini ialah situasi permintaan terhadap hasil produksinya (ini yang disebut derived demand).
7.    Pembeli yang profesional. Dibutuhkan tenaga ahli yang menilai barang-barang yang akan dibeli.
8.    Banyak orang yang terlibat untuk satu pembeliaan bisnis.
9.    Pembelian sering bersifat langsung dari pabrik yang mengasilkan barang tersebut.
10.  Sering berlaku taktik imbal beli. Artinya si pemasok bahan juga membeli hasil produksi perusahaan yang membeli bahan.
Para pembeli dalam pasar bisnis ini ialah organisasi-organisasi baik organisasi pemerintah, maupun non pemerintah. Pembelian oleh organisasi ini misalnya pembelian yang dilakukan kantor pemerintah, atau kantor perusahaan yang memerlukan perabot kantor, kursi, meja, peralatan komputer, dan sebagainya. Mereka selalu mencari barang sesuai dengan spesifikasi kebutuhan mereka, dan juga menetapkan pihak pemasok yang saling menguntungkan.
Orang-orang yang termasuk dalam kelompok buying center antara lain:
1.    Initiators, yaitu orang yang memiliki ide, merencanakan kebutuhan akan barang dan jasa buat organisasi.
2.    Users, yaitu orang atau bagian yang akan menggunakan barang tersebut, misalnya bagian-bagian dalam suatu organisasi menentukan jenis atau spec. Barang yang diperlukan dibagian kantornya.
3.    Influencers, yaitu orang yang turut mempengaruhi dan memberi saran dalam pembelian, barang apa, kepada siapa harus dibeli.
4.    Deciders, yaitu orang yang memutuskan segala sesuatu tentang pembelian.
5.    Approvers, yaitu orang yang memiliki ortoritas menyetujui proposal dan segala sesuatu mengenai rencana pembelian.
6.    Buyers, yaitu orang memiliki otoritas secara formal dalam menetukan pelaksanaan pembelian.
7.    Gatekeepers, yaitu orang atau petugas yang berpengaruh dalam cara memperoleh informasi.
5.    Systems Buying and System Selling
Banyak pembeli yang tidak mau pusing membeli suatu peralatan, yang ia inginkan ialah ia mau membeli suatu peralatan, misalnya mulai peralatan itu di pasang sampai bisa lancar dioperasikan. Oleh sebab itu para penjual atau produsen mengenalkan systems selling guna melayani permintaan konsumen. Systems selling banyak digunakan dalam penjualan barang industri dalam jumlah besar seperti dalam pembuatan telekomunikasi, transportasi, irigasi, pemasangan pipa, pembuatan bendungan, sistem kebersihan kota, dan keunggulan lainnya.
Pihak pembeli atau pemerintah tinggal menerima beres atau menerima kunci, ini disebut pula dengan systems turn key, tinggal putar kunci, atau pihak pembeli hanya berhubungan dengan satu kunci pemasok saja dan semua persoalan menjadi beres, tidak banyak urusan.
System Selling dan Turn key ini sering diikuti dengan penawaran MRO = Maintenance, Repair, Operation. Jadi pemasok juga bertanggung jawab terhadap pemeliharaan bangunan dan peralatan, perbaikkan bila terjadi kerusakkan dan mengoperasikan peralatan. Systems Buying dan Systems Selling ini akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik penjual maupun pembeli.




DAFTAR PUSTAKA:
Boyd, Harper W. Jr, Orville C. Walker. Jr dan Carl McDaniel. 2001. Manajemen Pemasaran. Jilid Pertama. Edisi Kedua. Alih Bahasa: Imam Nurnawan, S.E. Jakarta: Erlangga
Husein, Umar. 2002. Metode Riset Bisnis. Jakarta: PT gramedia Pustaka Utama
J. Paul, Peter & C. Olson, Jery. 2003. Consumen Behavior: Perilaku Konsimen dan Strategi Pemasaran. Edisi Keempat. Ahli Bahasa: Damos Sihombing. Jakarta: Erlangga
Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran. Jilid Pertama. Edisi Milenium. Alih Bahasa: Hendra Teguh, S.E., AK dan Ronny A. Rusli, S.E., AK. Jakarta: PT Prenhallindo
Kotler, Philip dan Gary Amstrong. 2001. Principles of Marketing. Edisi Kesembilan. New Jersey: PT Prenhallindo


2 komentar:

Info Training TMC Bandung mengatakan...

nice
www.titianmc.co.id
infoahlik3.wordpress.com

SITI ZULAIKHA mengatakan...

terima kasih