Minggu, 12 Mei 2013

FENOMENA KESURUPAN

Perempuan Lebih Rentan Kesurupan Daripada Pria

Dalam berbagai kasus kesurupan massal, yang menjadi korban atau pasien kebanyakan adalah kaum perempuan. Tak heran jika kemudian muncul anggapan bahwa perempuan lebih rentan kesurupan. Fakta ini pun diakui oleh pakar kesehatan jiwa.

"Dari fenomena yang selama ini terjadi, bisa dikatakan kesurupan lebih banyak terjadi pada wanita dibanding pria," kata Dr Prianto Djatmiko, SpKJ, psikiater dari RS Jiwa Soeharto Heerdjan, Grogol, saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (23/1/2013).

Menurut Dr Prianto, kesurupan disebabkan juga oleh faktor psikososial seperti sedang ada konflik, stres dalam menghadapi ujian dan sebagainya. Sayangnya tidak dijelaskan mengapa faktor-faktor tersebut lebih banyak menyebabkan kesurupan pada perempuan dibanding laki-laki.

Dalam pemahaman orang awam, perempuan lebih sensitif secara emosional. Termasuk dalam kasus-kasus kesurupan massal, perempuan dianggap lebih mudah terbawa oleh suasana sehingga lebih mudah tertular saat ada orang lain di sekitarnya yang sedang kesurupan.

"Pada kesurupan massal, kesurupan bisa terjadi akibat sugesti yang muncul dari seseorang karena melihat temannya yang kesurupan, maka terjadilah kesurupan massal," jelas Dr Prianto terkait fenomena kesurupan yang menurutnya bisa juga menular ke orang lain.

Jika jenis kelamin berhubungan dengan kerentanan terhadap fenomena kesurupan, tidak demikian dengan faktor lain khususnya usia seseorang. Menurut Dr Prianto, kesurupan bisa terjadi di hampir semua kelompok usia kecuali pada usia bayi dan anak-anak.

Dalam kebanyakan kasus yang mencuat di media, kesurupan massal paling banyak terjadi di sekolah setingkat SMP dan SMA. Beberapa kali terjadi juga pada karyawan-karyawati pabrik. Jarang sekali kesurupan massal terjadi di kuburan, sehingga makin membuktikan bahwa kesurupan tidak selalu berhubungan dengan hal-hal mistis.

Waspada, Ini Gejala-gejala Orang yang akan Kesurupan

Kesurupan hampir selalu membuat orang lain di sekitar korban panik karena terkejut. Padahal kesurupan tidak terjadi secara tiba-tiba, ada gejala tertentu yang bisa dikenali sebelumnya. Apa saja sih tandanya saat orang akan kesurupan?

Dr Prianto Djatmiko, SpKJ, psikiater dari RS Soeharto Heerdjan Grogol membenarkan adanya tanda-tanda atau gejala yang bisa menyertai saat orang akan kesurupan. Tidak sulit untuk dikenali oleh orang awam, sebab kadang hanya berupa keluhan-keluhan ringan sehari-hari.

"Gejala yang muncul bisa berupa spektrum ringan seperti diawali dengan kondisi tubuh yang lemas, pusing, berdebar, keringat dingin, pingsan beberapa saat dan meronta ketika bangun," jelas Dr Prianto saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (23/1/2013).

Meski demikian, Dr Prianto mengatakan bahwa gejala itu bisa sangat bervariasi pada setiap orang. Beberapa orang tidak mengalami lemas dan pusing, melainkan justru gelisah dan tidak tenang. Pendek kata, terjadi perubahan perilaku yang membuat orang tersebut tampak aneh.

Orang-orang yang menjadi gelisah atau agitatif saat akan kesurupan biasanya akan mengalami depersonalisasi atau hilang kesadaran akan identitasnya sendiri. Fenomena ini terjadi karena saat kesurupan, pasien mengalami perubahan identitas menjadi seseorang yang lain.

Disorientasi lingkungan juga bisa terjadi saat orang mengalami kesurupan. Pasien mendadak merasa asing dengan lingkungan tempat ia berada, lalu mulai gelisah dan makin lama akan semakin panik dan akhirnya menjadi histeris. Saat berteriak-teriak inilah biasanya orang dikatakan kesurupan.

"Seseorang yang kesurupan bisa saja tidak tahu ada di mana dan tiba-tiba merasa di suatu tempat yang dia takuti," tambah Dr Prianto.

Memang tidak mudah bagi orang awam untuk memberikan pertolongan pada orang kesurupan. Namun setidaknya, adanya berbagai gejalanya yang bisa dikenali akan memudahkan orang lain di sekitarnya untuk melakukan antisipasi sesuai pengetahuan dan keyakinan masing-masing.

Kesurupan, Benarkah Ulah Makhluk Halus?

Nuansa mistis selalu hadir saat ada orang kesurupan, baik kesurupan massal maupun individual. Anggapan bahwa makhluk halus telah merasuki korban akhirnya memunculkan berbagai ritual pengusir setan. Benarkah makhluk halus penyebabnya?

Dalam fatwanya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memang membenarkan adanya kahanah, yaitu semacam tenung atau teluh atau sering disebut dengan black magic. Praktik ini diharamkan dalam agama Islam dan biasanya yang menjadi korban adalah perorangan.

Seperti disampaikan oleh Ketua MUI, Drs H Amidhan Saberah, kesurupan massal yang sering terjadi di sekolah-sekolah bukan termasuk dalam khananah yang dimaksud dalam fatwa MUI. Menurutnya, kesurupan massal lebih disebabkan oleh faktor kejiwaan.

"Para ahli mengatakan ada stres, dan kelabilan pada diri seseorang sehingga mudah kesurupan," kata Amidhan saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (23/1/2013).

Lalu bagaimana para ahli, dalam hal ini psikiater dalam memandang fenomena kesurupan? Setujukah para ahli kesehatan jiwa bila dikatakan bahwa penyebab kesurupan adalah hal-hal yang berasal dari dunia lain, termasuk di antaranya adalah makhluk halus?

Dokter jiwa dari RS Soeharto Heerdjan Grogol, Dr Prianto Djatmiko, SpKJ menolak dipertentangkan dengan kondisi psikososial seseorang yang memahami adanya unsur makhluk halus ketika kesurupan. Namun yang jelas, fenomena tersebut bisa diatasi secara medis.

"Kesurupan adalah bagian dari suatu gangguan konversi atau disosiatif yang merupakan gangguan jiwa neurotik. Namun, fenomena ini bisa diatasi secara medis," kata Dr Prianto.

"Secara global peristiwa ini dipengaruhi oleh faktor psikososial dan lingkungan yang terdiri atas dua faktor, yakni faktor biopsikososial (seperti tekanan dalam bentuk sugesti) dan faktor sosiokultural (kepercayaan masyarakat Indonesia mengenai unsur-unsur mistis)," lanjutnya.

Salah satu fenomena yang hingga kini masih sulit dijelaskan secara medis adalah kesurupan yang membuat seseorang tiba-tiba bisa berbahasa asing. Fenomena ini umumnya merupakan salah satu bentuk konversi, namun harus dilihat dulu apakah bahasa asing yang digunakan itu benar.

Ada kalanya orang tersebut sebenarnya menguasai bahasa asing, namun dalam kondisi sadar tidak terlalu PD (percaya diri) untuk menggunakannya sehingga tidak ada yang tahu. Nah, jika dalam kondisi kesurupan menjadi lebih PD maka orang akan menganggapnya sedang kesurupan arwah orang asing.


Tidak ada komentar: